2 Hari yg Mengagumkan!

pada tanggal 2-3 Juni gw mengikuti sebuah acara di Gedung Pos Bandung yg sungguh menggugah selera “emangnya makanan: huhuhu..Gubrak,, eh maksudnya menggugah Pikiran dan Mencerahkan, disana kita diajak untuk berkontempelasi mengenal siapa diri kita “Who Am I” dan mengenal apa sebenarnya arti kehidupan kita.

dan Guys Yang LuaR Binasanya adalah 2 hari itu sampe menguras Esmosi, bercucuran darah keringat dan Air mata, Hahaha..Lebay.

Mau Tau gak Guys acara apa itu yg gw & tmn2 gw ikutin ???

Kasih Tau gak ya…

TRAINING MUDA MULIA!!!

Acara dahsyat deh Luar Biasa

Gambar

 Ditraining ini qt diajarkan 7 Modus Kemuliaan..

1. Hidup Yakin

2. Kenal Diri

3. Jiwa Tumbuh

4. Aksi Hebat

5. Jual Intan

6. Sayap Utuh

7. Akhir Indah

Nah Penasaran kan apa tuh 7 Makhluk kata2 diatas, mau Tahu??? apa Mau Tempe??? Hahaha

Terus qt diajarin mantra2 Sakti Manderaguna, Eits.. INI Rahasia LoH

Mantra Pertama :

Siapa Kita ?

Muda Mulia

 

Muda Mulia?

Sholih, Berlimpah Manfaat

 

Sholih, Berlimpah, Manfaat?

Saya..Saya..Saya..

 

Nah Itu dulu ya Guys, Bye..bye :)

 

 

Categories: Jelajah Hidup | Leave a comment

MENCARI PEMIMPIN MASA DEPAN

MENCARI PEMIMPIN MASA DEPAN

“Jika perahu tersesat di suatu hari, pastilah akan mendayung.
Memberikan wujud sebagai wujud, dan di
Kedua matanya ada kilatan”

Masa depan adalah sesuatu yang abstrak, sulit ditebak dan kaya dengan kemungkinan. Adapun ancaman paling besar yang menghadang masa depan adalah adanya suatu organisasi tapi tidak ada manajemennya, kita tidak mendapatkan manager dan tidak mendapatkan hasil.
“Ya Allah kuatkan islam dengan salah seorang yang Kau cintai diantara dua orang ini.
Abu Jahal atau Umar bin Khattab.” (HR. Tirmizi)
Tatkala memerhatikan pemimpin, sesungguhnya kita sedang memerhatikan orang-orang yang memeliki potensi dan bakat inovatif, yang dengannya kita akan membangun sebuah pondasi yang kokoh. Persoalan kita saat ini adalah bahwa kita menginginkan solusi dan perbaikan tapi tidak ada solusi yang sistemamatis dan serius yang memungkinkan terjadinya perbaikan itu. Sangat tidak mungkin bagi seseorang yang berharap bahwa kebunnya akan berbunga sementara si-pemilik kebun tidak melakukan apa-apa atau tidak memeliharanya. Begitu pula dengan kepemimpinan, bagaimana jiwa leadership bisa tumbuh tanpa adanya suatu stimulus yang dapat menumbuh dan mengembangkan itu. Maka mutlak dibutuhkan suatu wadah atau organisasi untuk menjadi suatu laboraterium awal.
Siapakah pemimpin itu?, dia adalah Para pemuda karena mereka adalah orang yang paling berbakat dan memiliki obsesi. Pemuda adalah orang yang tidak hanya hidap pada saat ini tetapi juga memiliki segala kemungkinan untuk menjagi agent of change bagi para pendahulunya. Lihatlah sosok panglima Sudirman, yang dengan segala semangat dan keperkasaannya menyemangati para arek-arek surabaya untuk melakukan perlawanan kepada penjajah, yang tugas berat itu tidak mungkin lagi dikerjakan oleh orang tua. Perhatikan perkataan Waraqah bin Naufal kepada Nabi Muhammad SAW tatkala cahaya kenabiannya memancar cerah, “Alangkah senangnya jika ku masih kuat!” Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan jadza (kuat) itu adalah kiasan dari kata muda. Dia berkata alangkah senangnya jika aku masih sangat muda saat kau muncul (sebagai nabi) agar aku bisa membantu dan menolongmu.
Lalu timbul pertanyaan; bagaimana mencari pemimpin masa depan?, cara yang paling mudah untuk kita identifikasi adalah dengan mengenali karakter-karakternya, yaitu:
a. Cerdas , seseorang yang memiliki kecerdasan tertentu akan bisa memimpin generasi nya untuk berbuat.
b. Cekatan, seorang pemimpin harus memiliki sifat cekatan yaitu terampil dan cepat dalam melakukan sesuatu hal.
c. Keberaniaan, Seorang pemimpin juga biasanya memiliki keberaniaan yang lebih dari orang-orang disekelilingnya, yang berani take action dan mengambil keputusan dengan segala risikonya.
d. Keseriusan, ketika seseorang telah memiliki kecerdasan, kecekatan, dan keberaniaan. Tetepi tidak memiliki jiwa keseriusan maka ketiga hal itu bisa menjadi sis-sia karena tidakkan dia tidak akan menghasilkan suatu karya yang sempurna karena dia tidak pernah serius untuk melakuka suatu hal.
Kita menginginkan sebuah ucapan untukpemimpin masa depan sebagaimana Rasullah mengucapkan ucapan khususnya untuk Ibnu Abbas. Beliau berdoa, Ya Allah, ajarkanlah padanya kitab (Al-Qur’an). Ibnu Hajar berkata kepada Ibnu Abbas:
Walaupun malam demikian pekat namun sejarah mengajarik.
Bahwa siang akan munsul dari perut rambulan. Berpegang teguh pada kitab
Allah, sementara angin, berhala dan arca ada disekitarku
Kudengar suara-suara menggelegakkan darahku
Dan kulihat kuda dan panji-panji mendekatiku
Jika kulihat mereka kukhayalkan mereka
Datang dari keabadiaan atau menuju keabadian
Mereka adalah orang yang menegakkan keadilan
Jika mereka dihalangi, maka hidayah akan terhalangi
Mereka yang dipucuk-pucuknya berdiam
Bintang-bintang termahal dan muncullah musim nan
subur. Mereka datang dengan semangat dan kuda-kuda
mengenalinya. Awal hujan itu adalah rintik lalu
tertuang lebat.
(Fath al-Bari)

Ternyata ada beberapa prinsip untuk mencetak Pemimpin masa depa. Yaitu ;
1. Pembelajaran dan peningkatan yang berkesinambungan, hasan bin ali berkata: “Belajarlah ilmu karena sesungguhnya jika kau dari kalangan kaum rendahan, kamu akan menjadi orang besar besok hari karena ilmumu. Barangsiapa yang tidak mempunyai kemampuan menghafal, hendaknya dia menulis. ”
2. Ajari Bahasa dan Skills, contohnya adalah Zaid bin Tsabit diperintahkan oleh rosul untuk belajar bahasa Suryaniyah pada saat dia masih muda.
3. Ajari mereka tata kehidupan, sesungguhnya umat yang kehilangan rasa identitasnya tidak terjadi kecuali karena lemahnya pemuda mereka dalam kerja-kerja peradaban dan kesibukkan mereka dalam masalah-masalah yang kecil.
4. Menumbuhkan rasa tanggung jawab tentang tugas berat yang ada, Abu Bakar Ash-Shidiq menugasi Zait bin Tsabit untuk menunaikan tugas yang demikian sulit, yaitu mengumpulkan ayat suci Al-Qur’an. Berkatalah Abu Bakar memberikan pengakuaan dan percayaan, “Sesungguhnya kau adalah seseorang yang masih muda, memiliki otak cemerlang, kami tidak meragukanmu. Kau telah menulis wahyu pada masa Rasulullah hidup, maka carilah Al-qur’an lalu tulislah.”
5. Membangun visi yang jelas pada cakrawala yang luas.
6. Perhatikan pada sisi kekuatan dan pengembangan.
7. Identifikasi potensi sebagai dasar pertimbangandalam pengembangan.
8. Libatkan diri pada kerja-kerja yang bersifat sukarela.
9. Kesesuaian antara potensi dan pendidik.
10. Konsentrasi penuh.
11. Banyak bertemu dengan orang-orang terkenal.
12. Manfaatkan peluang-peluang yang tersedia.
13. Niat yang jujur dan benar.

Jadi, dalam mengembangkan suatu aspek kepemimpinan diperlukan suatu upaya yang tidak simpel atau lebih sistematis dan terstuktur, dan juga diperlukan banyak orang yang benar-benar peduli terhadap nasib kaumnya atau negaranya, sehingga dapat menciptakan pemimpin masa depan yang tangguh.

Categories: Jelajah Hidup | 1 Comment

Ketika Keinginan Itu Datang

“Tiga orang yang akan selalu diberi pertolonan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya.” ¹
“Tiga orang yang pasti mendapat pertolongan Allah, yaitu budak mukatab yang bermaksud untuk melunasi perjanjiannya, orang yang menikah dengan maksud memelihara kehormatannya, dan yang berjihad di jalan Allah.” ²
Perkenalkan nama aku Ardi, berikut ini adalah kisah nyataku mengenai perjalanan cinta seorang ABG.
Ketika keinginan itu datang, pada tahun 2002 hampir aku ingin bunuh diri ketika ketiga pacar aku yang kusembunyikan dalam artian mereka tidak tahu satu sama lain kalau mereka aku duakan, mereka minta putus secara serempak setelah mereka mengetahui kalau mereka aku duankan. Perasaan aku hancur dan aku merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam diri, seketika itu pula muncul pikiran negatif aku untuk mengakhiri hidup ini.
Perasaan ini begitu kalut hingga hidup ini menjadi disorentasi, hari-hari begitu suram, awan begitu gelap dan hidup ini terasa sepi. Sampai akhirnya disuatu sore di balik surau didekat rumah ada suatu bisikan-bisikan kebaikan untuk kembali kepada Rabb pencipta alam dan mengembalikkan segala permasalahan ini.
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan dan kamu lihat manusia manusia masuk Diin Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan-mu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat.” ³
Alhamdulillah Segala puji bagi Allah, Cahaya itu datang dan masuk kedalam hatiku menggantikan kabut yang hitam dan pekat. Aku tersadar dalam setengah ketidaksadaranku bahwa selama ini aku telah dibutakan oleh cinta, aku telah mengikuti dan menuruti segala keinginan hawa nafsuku untuk terus dan terus dibutakan loh wanita. Alhamdulillah, ternyata Allah masih sayang kepada aku padahal aku selalu mendustakan kebenaran-Nya dan selalu melakukan perbuatan dosa.
Aku termenung sejenak dan perlahan aku merefres kembali ingatanku tentang cerita perjalanan cintaku yang ketika itu pula bertepatan dengan ulang tahunku ke 14thn, memang aneh anak sesusai aku yang kira-kira baru duduk di kelas 2 SMP sudah mengalami cobaan yang begitu beratnya.

Categories: Jelajah Hidup | Leave a comment

Pemuda dan Dekadensi Moral

PEMUDA DAN DEKADENSI MORAL

Sudah menjadi wacana umum, bahwa dekadensi moral yang terjadi pada kawula muda telah mencapai titik mengkhawatirkan. Terjadinya pelanggaran norma-norma sosial yang dilakukan oleh para muda-mudi merupakan masalah terpenting bangsa ini dalam rangka perbaikan sumber daya manusianya. Karena, ketika sebuah etika sosial masyarakat tidak diindahkan lagi oleh kaum muda, maka laju lokomotif perbaikan bangsa dan negara akan mengalami hambatan.

Beberapa Contoh dekadensi Moral:
Tawuran
Sering sekali kita mendengar kasus tawuran antar pelajar, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, dan Surabaya. Hal itu seakan sudah menjadi kebiasaan di kalangan remaja kita. Bahkan ironisnya persoalan yang memicu terjadinya kontak fisik itu adalah hal-hal yang sangat remeh. Misalnya, karena minta rokok dan tidak diberi, atau karena ketersinggungan yang hanya bersifat dugaan semata. Hal-hal semacam itu berpotensi sekali untuk menyulut api bentrokan antar pelajar. Kontak fisik seolah menjadi solusi satu-satunya untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Mereka tidak lagi memikirkan akibat yang akan diderita oleh berbagai pihak. Bahkan mereka tidak menghiraukan lagi kalau tindakan mereka itu akan menimbulkan kerugian yang sangat besar; baik bagi diri sendiri,keluarga, ataupun sosial.

Miras Dan Narkoba

Dari dua juta pecandu narkoba dan obat-obat berbahaya (narkoba), 90 persen adalah generasi muda, termasuk 25.000 mahasiswa. Karena itu, narkoba menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup bangsa. Alwi Nurdin, Kepala Kanwil Depdiknas DKI mengatakan, ‘Sebanyak 1.015 siswa di 166 SMU di Yogyakarta selama tahun 1999/2000 terlibat tindak penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan narkoba. Sedangkan 700 siswa sisanya ditindak dengan pembinaan agar jera, dan tidak mempengaruhi teman lain yang belum terkena sebagai pengguna narkoba. Para siswa penyalahgunaan narkoba tersebar di Jakarta-Utara (Jakut) sebanyak 248 orang dari 26 SMU, Jakarta-Pusat atau Jakpus (109) di 12 SMU, Jakarta-Barat atau Jakbar (167) di 32 SMU, Jakarta-Timur atau Jaktim (305) di 43 SMU dan Jakarta-Selatan atau Jaksel (186) di 40 SMU, (kompas, 05 Februari 2001).

Negara kita sedang mengalami ancaman badai yang sangat mengkhawatirkan. Peredaran minuman keras (miras) dan narkobapun semakin hari semakin mengarah pada peningkatan yang siknifikan. Tidak jarang kita baca, dengar, atau lihat dalam beberapa media cetak dan elektronik akan tindak kriminal yang bersumber dari penggunaan kedua jenis barang di atas. Kurva peningkatan peredaran miras dan narkoba itu tidak terlepas dari dampak negatif semakin mengguritanya tempat-tempat hiburan malam yang tersaji manis di hampir sudut kota-kota besar. Bahkan ironisnya, peredaran itu sekarang tidak hanya terbatas pada kalangan tertentu, namun sudah merebah kepada anak-anak yang dikategorikan masih di bawah umur. Ada beberapa dampak negatif atau kerugian bagi pecandu miras dan narkoba;

Pergaulan Bebas (pornografi dan pornoaksi)

Seiring dengan derasnya arus globalisasi, yang menjadikan dunia ini semakin sempit, maka di waktu yang sama hal itu akan membawa sebuah konsekwensi; baik positif atapun negatif. Kita tidak akan membicarakan mengenai konsekwensi positif dari globalisasi saat ini. Karena hal itu tidak akan membahayakan rusaknya moral generasi muda. Namun yang menjadi perhatian kita adalah efek atau dampak negatif yang dibawa oleh arus globalisasi itu sendiri yang mengakibatkan merosotnya moral para remaja saat ini.

Diantara sekian banyak indikator akan rusaknya moral generasi suatu bangsa adalah semakin legalnya tempat-tempat hiburan malam yang menjerumuskan anak bangsa ke jurang hitam. Bahkan bukan merupakan hal yang tabu lagi di era sekarang ini, hubungan antar muda-mudi yang selalu diakhiri dengan hubungan layaknya suami-isteri atas landasan cinta dan suka sama suka. Sebuah fenomena yang sangat menyedihkan tentunya ketika prilaku semacam itu juga ikut disemarakkan oleh para muda-mudi yang terdidik di sebuah istansi berbasis agama. Namun itulah fenomena sosial yang harus kita hadapi di era yang semakin bebas dan arus yang semakin global ini.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, akan semakin memudahkan para remaja untuk mengakses hal-hal yang mendukung terciptanya suasana yang serba bebas. Hal-hal yang dahulu di anggap tabu dan masih terbatas pada kalangan tertentu, kini seakan sudah menjadi konsumsi publik yang dapat diakses di mana saja. Sebagai contoh konkrit adalah merebaknya situs-situs berbau pornografi dapat dengan mudah dikonsumsi oleh para pengguna internet. Memang di satu sisi tidak bisa dinafikan, bahwa internet memberikan kontribusi besar dalam perkembangan moral dan intelektual. Akan tetapi dalam waktu yang sama, internet juga dapat menghancurkan moral, intelektual dan mental generasi sebuah negara. berdasarkan penelitian tim KPJ (Klinik Pasutri Jakarta) saja, hampir 100 persen remaja anak SMA, sudah melihat media-media porno, baik itu dari situs internet, VCD, atau buku-buku porno lainnya, (Harian Pikiran Rakyat, minggu 06 juni 2004).

Kesimpulan :
Jadi banyak sebab yang menyebabkan generasi muda sekarang mengalami dekadensi moral dan penanggulangannya adlah dengan membentuk sistem keluarga yang kuat, membangun karakter building dan pengokohan ajaran moral atau ajaran agama.

Categories: Jelajah Hidup | 2 Comments

Momentum Indah Ramadhan

Ramadhan, begitu orang mendengar atau menyaksikan bahwa bulan ramadhan telah datang dan akan segera meninggalkan kita. Huring kemeriahan, kegembiraan meliputi juta-an bahkan ratusan ribu umat muslim di seluruh dunia, terutama penduduk Indonesia yang sangat bergembira akan kehadiraan bulan yang mulia ini. Dari mulai anak kecil hingga orang tua, dari orang kecil atau rakyat biasa hingga pejabat dan bahkan dari Preman hingga Kyai semuanya seakan menjadi “sholeh”. entah karena dorongan apa seakan-akan seluruh penduduk warga Republik ini menjadi rajin untuk beribadah. Bahkan, orang yang jarang-jarang menunaikan kewajiban sholat 5 waktu nya saja, tiba-tiba menjadi bersemangat untuk melaksanakan kewajiban 5 waktu nya dan juga melaksanakan Puasa Ramadhan. Oleh karena itu jangan sia-siakan bulan Ramadhan, yang sebentar lagi akan meninggalkan kita, ada beberapa momentum yang bisa kita optimalkan dalam penghujung ramadhan ini yaitu ;
1. Introspeksi Diri di Bulan Ramadhan
Shahabat yang mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ

“Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.”
Hadits di atas dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya kitab Ash-Shaum, bab Hal Yuqalu Ramadhan au Syahru Ramadhan no. 1898, 1899. Dikeluarkan pula dalam kitab Bad‘ul Khalqi, bab Shifatu Iblis wa Junuduhu no. 3277. Adapun Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya membawakannya dalam kitab Ash-Shaum, dan diberikan judul babnya oleh Al-Imam An-Nawawi, Fadhlu Syahri Ramadhan no. 2492.
Oleh karena itu ada baiknya kita mengoptimalkan Ramadhan dengan cara terus mengoreksi diri, sejauh mana kita telah berbuat kebaikan di bulan ini dan sejauh mana kita telah khilaf atau melakukan dosa.
2. Keutamaan Lailatul Qadar
Saudaraku, pada sepertiga terakhir dari bulan yang penuh berkah ini terdapat malam Lailatul Qadar, suatu malam yang dimuliakan oleh Allah melebihi malam-malam lainnya. Di antara kemuliaan malam tersebut adalah Allah mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44]: 3-4)
Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar [97]: 1)
Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5)

Sahabat, dua point itu yang menurut saya adalah dua hal yang bisa mengoptimalkan Ramadhan kita, tentunya dengan menjalankan I’tikaf di sepuluh malam terakhir di bulan yang penuh berkah dan hikmah ini.

Disusun oleh seseorang yang baru belajar menulis:
Nugroho Hardiyanto, Mahasiswa FE UNPAD
E-mail : muh_nunu@yahoo.com
Weblog : http://www.nu2jelajah.wordpress.com
Referensi : dari berbagai macam sumber.

Meneropong Keabsahan Ilmu Hisab

Meneropong Keabsahan Ilmu Hisab
Dikirim oleh webmaster, Ahad 31 Agustus 2008, kategori Fiqh
Penulis: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc
.: :.
Mendekati bulan Ramadhan tentu kita ingat bagaimana perasaan kita yang demikian gembira karena memasuki bulan yang penuh limpahan pahala yang Allah Ta’ala siapkan untuk orang-orang bertakwa. Namun di antara rasa gembira itu, terselip kegelisahan ketika melihat kaum muslimin berbeda-beda dalam menentukan awal bulan Ramadhan. Hilang kebersamaan mereka dalam menyambut bulan mulia itu. Sungguh hati ini sangat sedih. Semoga Allah k segera mengembalikan persatuan kaum muslimin kepada ajaran yang benar dan kebersamaan yang indah.

Hilangnya kebersamaan itu disebabkan oleh banyak faktor yang mestinya kaum muslimin segera menghilangkannya. Satu hal yang tak luput dari pengetahuan kita adalah pemberlakuan hisab atau ilmu falak dalam menentukan awal bulan hijriyyah di negeri ini baik oleh individu ataupun organisasi. Perbuatan tersebut merupakan sesuatu yang sangat lazim, bahkan seolah menjadi ganjil jika kita tidak memakainya dan hanya mencukupkan dengan cara yang sederhana yaitu ru’yah (melihat hilal).

Demikianlah tashawwur (anggapan) yang terbentuk dalam benak sekian banyak kaum muslimin. Hal inilah yang kemudian menyebabkan adanya perbedaan pendapat dalam menentukan awal bulan, termasuk sesama mereka yang memakai hisab, terlebih dengan ilmu yang lain. Perlu diingat bahwa agama ini telah sempurna dalam segala ajarannya sebagaimana Allah k nyatakan:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْناً

“Pada hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha buat kalian Islam sebagai agama kalian.” (Al-Maidah: 3)
Agama ini tidak membutuhkan penambahan atau pengurangan, lebih-lebih pada perkara ritual (ibadah) yang selalu berulang di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam seperti shalat, puasa, dan haji. Ajaran Islam dalam hal itu telah jelas, termasuk pula dalam menentukan awal bulan hijriyyah. Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa hilal (bulan sabit) adalah alat untuk menentukan awal bulan Islam. Allah Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya tentang hilal-hilal, katakanlah itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji.” (Al-Baqarah: 189)

Demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

إِذَا رَأَيْمُوْهُ فَصُوْمُوهُ وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

“Jika kalian melihatnya maka puasalah kalian dan jika kalian melihatnya maka berbukalah kalian, tapi jika kalian tertutupi awan maka tentukanlah (menjadi 30).” (Shahih, HR. Al-Bukhari no.1900 dan Muslim no. 2501)
Inilah tuntunan Islam. Tuntunan yang demikian mudah, pasti, dan membawa banyak maslahat. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam. Nabi mengatakan demikian ketika ilmu hisab dan falak telah ada dan dipakai oleh masyarakat Romawi, Persia bahkan Arab.

Namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam tidak mengikuti mereka. Bahkan beliau menerima sepenuhnya ketentuan Allah n bahwa untuk menentukan awal bulan adalah dengan ru’yatul hilal (melihat hilal). Yang sangat disayangkan, hampir-hampir ajaran Nabi ini tersisihkan dan diganti kedudukannya dengan ilmu hisab dan ilmu falak. Lebih ironis lagi, ini dilakukan oleh pihak-pihak yang dipandang sebagai ulama. Oleh karenanya kita akan melihat sejauh mana pandangan ulama Ahlus Sunnah terhadap pemberlakuan ilmu hisab.

Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa-nya menjelaskan masalah ini: “Saya melihat manusia di bulan puasa dan bulan lainnya, mereka ada yang mendengarkan orang tak berilmu dari kalangan ahli hisab bahwa hilal dilihat atau tidak dilihat. Sampai-sampai, di antara hakim ada yang menolak persaksian beberapa orang yang adil karena mengikuti ahli hisab yang bodoh dan berdusta bahwa hilal dilihat atau tidak dilihat.

Diantara mereka ada juga yang tidak menerima ucapan ahli hisab bintang baik lahir maupun batin. Akan tetapi dalam hatinya punya syubhat yang banyak karena mempercayainya. Sesungguhnya kami mengetahui dengan pengetahuan yang sangat dimaklumi dari ajaran Islam bahwa dalam ru’yah (melihat) hilal untuk puasa, haji, ‘iddah (masa menunggunya wanita yang dicerai atau ditinggal mati suaminya) atau yang lainnya dari hukum-hukum yang berkaitan dengan hilal, tidak boleh menggunakan berita dari ahli hisab tentang terlihat atau tidaknya hilal.

Banyak nash-nash dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam dalam masalah ini, dan kaum muslimin telah berijma’ (bersepakat) atas yang demikian. Tidak diketahui ada khilaf (perselisihan pendapat) di masa lalu dalam masalah ini dan tidak pula di masa sekarang. Kecuali sebagian ahli fiqih belakangan setelah tiga kurun pertama yang menyangka bahwa jika hilal terhalangi awan boleh bagi seorang ahli hisab untuk mengamalkan hisab pada dirinya sendiri sehingga jika hisabnya menunjukkan mungkinnya ru’yah hilal maka ia puasa, jika tidak maka tidak berpuasa.

Pendapat ini walaupun terkait dengan “jika tertutup awan” dan khusus bagi ahli hisabnya saja, tapi tetap merupakan pendapat yang syadz (ganjil), karena telah didahului oleh ijma’ yang menyelisihinya. Maka, tidak ada seorang muslimpun yang berpendapat bolehnya mengikuti hisab di saat cerah atau menggantungkan hukum yang bersifat umum secara keseluruhan padanya. Allah Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya tentang hilal-hilal, katakanlah bahwa itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji.” (Al-Baqarah: 189)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa hilal merupakan waktu untuk manusia dalam segala hal yang berkaitan dengan mereka. Dikhususkan penyebutan ibadah haji karena untuk membedakannya dengan ibadah yang lain. Selain itu, haji disaksikan oleh malaikat dan selainnya. Juga karena haji dilakukan di penghujung bulan dalam satu tahun.

Allah Ta’ala menjadikan hilal sebagai waktu bagi manusia terkait dengan hukum-hukum yang ditetapkan syariat. Juga hukum-hukum yang ditetapkan dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh manusia. Sehingga apa saja yang waktunya tetap baik dengan syariat atau syarat maka hilal-lah patokan waktunya. Masuk di dalamnya puasa, haji, waktu ila’, ‘iddah, puasa kaffarah, puasa nadzar dan lain-lain.

Apa yang datang dari syariat merupakan perkara yang paling sempurna, paling baik, paling jelas, paling benar, dan paling jauh dari kegoncangan. Hilal adalah sesuatu yang disaksikan dan dilihat dengan mata. Dan di antara maklumat yang paling absah (meyakinkan) adalah sesuatu yang dilihat dengan mata. Oleh karenanya mereka sebut hilal karena kata itu (dari sisi bahasa) menunjukkan makna terang dan jelas. Dikatakan bahwa asal makna hilal adalah mengangkat suara. Dulu tatkala mereka melihat hilal mereka mengangkat suaranya, sehingga disebut hilal.

Artinya, waktu-waktu tersebut ditentukan dengan perkara yang jelas, terang, manusia sama-sama (bisa melihat)-nya. Tidak ada yang seperti hilal dalam masalah ini. Hilal ditetapkan dengan sesuatu yang thobi’i (alami), nampak, bersifat umum, dan dapat dilihat dengan mata sehingga tidak seorangpun sesat dari agamanya. Dengan memperhatikannya, tidak akan tersibukkan oleh masalah-masalah lain, dan tidak akan menjerumuskan pada perkara yang tidak bermanfaat. Juga tidak akan menjadi celah talbis (pengkaburan) dalam agama Allah Ta’ala sebagaimana dilakukan ulama agama lain terhadap agama mereka. Dasar dilarangnya hisab dari naqli (syariat) dan ‘aqli (akal) sebagai berikut:
Pertama, dari ‘Abdullah Ibnu ‘Umar radiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam bahwasanya beliau bersabda:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلا َنَحْسِبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا وَعَقَدَ الإبْهَامَ فِي الثَّالِثَةِ وَالشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا يَعْنِي تَمَامَ الثَّلاَثِيْنَ

“Sesungguhya kami adalah umat yang ummi tidak menulis dan tidak menghitung bulan itu seperti ini, seperti ini dan seperti ini (beliau menggenggam ibu jari pada ketiga kalinya) dan bulan ini seperti ini, seperti ini dan seperti ini (yakni sempurna 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu ‘Umar)

Hadits ini merupakan berita sekaligus mengandung larangan ilmu hisab. Tidak adanya kemampuan beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam dalam menulis karena beliau terhalang dari jalannya (mempelajarinya), padahal beliau mendapatkan manfaat yang sempurna dari tujuan kemampuan menulis itu. Ini merupakan keutamaan dan mukjizat besar karena Allah Ta’ala mengajarkan ilmu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam tanpa perantara sebuah kitab. Hal ini merupakan mukjizat bagi beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam.

Di sisi lain, seluruh para pembesar shahabat seperti empat khalifah dan yang lainnya, mayoritas mampu menulis karena butuhnya mereka terhadap hal itu. Namun mereka tidak diberi wahyu sebagaimana yang diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam. Sehingga jadilah ke-ummi-an yang khusus bagi beliau sebagai sifat kesempurnaannya. Yaitu dari sisi ketidakbutuhannya kepada tulis menulis dan berhitung, karena ada yang lebih sempurna dan utama darinya.
Tapi, ke-ummi-an ini merupakan sifat negatif pada diri selain Rasulullah n bila dilihat dari sisi kehilangan keutamaan yang tidak bisa didapatkan kecuali dengan menulis. Maka, penulisan hari-hari pada bulan dan meng-hisab-nya termasuk dalam perkara ini (yakni, umat ini telah memiliki cara yang lebih baik daripada hisab yaitu ru’yah sehingga bila kita tidak memakai ilmu hisab, hal itu merupakan kesempurnaan karena kita memiliki yang lebih baik darinya. Sebaliknya, jika memakai hisab dan meninggalkan ru’yah justru merupakan kekurangan karena kita meninggalkan yang lebih baik dan memakai yang lebih jelek, red).
Nabi n menerangkan: “Kami adalah umat yang ummi, tidak menulis tulisan ini dan tidak menghisab dengan hisab ini.” Ucapan beliau tersebut menafikan (mengingkari) hisab dan penulisan yang berkaitan dengan hari-hari pada suatu bulan yang dijadikan dasar waktu hilal bersembunyi dan kapan hilal muncul.

Penafian dalam hadits ini meski dengan teks yang mutlak bersifat menafikan hal yang lebih umum, namun jika dilihat dalam konteks kalimat itu ada yang menerangkan maksudnya, maka akan diketahui apakah maksud penafian itu umum ataukah khusus. Sehingga tatkala kata “Kami tidak menulis dan tidak menghitung” disejajarkan dengan sabda beliau “bulan itu 30 hari” dan “bulan itu 29 hari,” berarti beliau menerangkan bahwa dalam perkara hilal kita tidak membutuhkan hisab atau penulisan [1] di mana bulan itu kadang seperti ini dan kadang seperti itu. Pembeda antara keduanya hanya ru’yah, tidak ada pembeda lain berupa (hasil) penulisan atau hisab.

Para ahli hisab pun tidak mampu untuk memposisikan ru’yah dengan tepat secara terus menerus -hanya mendekati saja-, sehingga terkadang benar dan terkadang salah. Jadi jelas bahwa ke-ummi-an dalam hal ini merupakan sifat pujian dan kesempurnaan. Hal itu jelas dari beberapa sisi:
– Dibandingkan hisab, ru’yah hilal lebih mencukupi, lebih terang dan jelas.
– Menggunakan hisab memungkinkan timbulnya kesalahan.
– Hisab dan penulisan justru mengandung banyak kerumitan yang tiada manfaatnya karena menjauhkan dari manfaat yang diperoleh. Di mana pada hakekatnya, hisab itu bukan dimaksudkan untuk hisab itu sendiri melainkan untuk hal yang lain.

Jika hisab dan penulisan ditiadakan karena kita tidak membutuhkan hal itu, karena ada yang lebih baik, dan karena kelemahan yang ada pada penulisan dan hisab, maka hisab dan penulisan merupakan kekurangan dan aib, bahkan kejelekan dan dosa. Barangsiapa yang masuk ke dalam hisab berarti ia telah keluar dari umat yang ummi dari sisi kesempurnaan dan keutamaannya, yaitu selamat dari kerusakan dan ia masuk dalam sisi negatif yang menghantarkan kepada kerusakan dan kegoncangan. Sehingga kesempurnaan dan keutamaan yang didapat dengan ru’yah hilal tanpa hisab itu akan hilang karena menyibukkan diri dengan hisab, meski terkadang benar.
Kedua, Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

لاَ تَصُوْمُوا حَتَّى تَرَوْهُ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ

“Jangan kalian berpuasa sampai kalian melihatnya dan jangan kalian berbuka sampai kalian melihatnya.” (seperti terdapat dalam hadits Ibnu ‘Umar radiyallahu ‘anhuma) (Shahih, HR. Muslim no. 2505)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam melarang untuk berpuasa sebelum melihat hilal dan melarang berbuka sebelum melihatnya, dan ru’yah di sini artinya penglihatan dengan indera mata. Maksudnya bukan tidak seorangpun boleh berpuasa sehingga melihatnya sendiri, namun janganlah seseorang berpuasa sehingga ia melihatnya atau orang lain melihatnya.

Berbeda dengan orang yang menerapkan ilmu hisab dan yang lainnya, yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam tegaskan ketiadaannya dari umat ini dan larangannya. Oleh karena ini para ulama menganggap mereka itu telah memasukkan sesuatu yang bukan dari Islam ke dalam Islam sehingga para ulama menghadapi mereka dengan pengingkaran yang dipakai dalam menghadapi ahli bid’ah.

Dilarangnya Hisab dari Sisi Akal
Peneliti dari ahli hisab semuanya bersepakat tentang mustahilnya menentukan ru’yah secara tepat dengan ilmu hisab untuk kemudian dihukumi bahwa hilal pasti dilihat atau tidak dapat dilihat sama sekali dengan ketentuan yang sifatnya menyeluruh, meski mungkin bisa terjadi secara kebetulan. Oleh karenanya orang-orang yang mementingkan bidang ini dari orang-orang Romawi, India, Persia dan Arab juga yang lainnya seperti Batlimus -yang dia adalah pemuka mereka-, juga yang datang setelahnya baik sebelum Islam atau setelahnya, tidak berbicara dalam masalah ini dengan satu hurufpun. (Akan tetapi yang berbicara dalam masalah ini adalah mereka yang datang belakangan seperti Wisyyar Ad-Dailami dan semacamnya ketika melihat bahwa syariat mengaitkan hukumnya dengan hilal, mereka melihat hisab sebagai jalan yang bisa tepat dalam hal menentukan waktu ru’yah. Padahal hisab bukan jalan yang lurus dan seimbang, bahkan memiliki banyak kesalahan dan hal itu telah terbukti. Mereka banyak berselisih apakah hilal bisa dilihat ataukah tidak. Hal itu disebabkan mereka menggunakan hisab untuk mengukur sesuatu yang tidak bisa diketahui dengan hisab sehingga mereka melenceng dari jalan yang benar).” (Majmu’ Fatawa, 25/207)

Sisi yang jelas dari tidak mungkinnya keakuratan hisab dalam menentukan ru’yah, bahwa sesuatu yang paling mungkin bisa ditentukan oleh ahli hisab –jika hisabnya benar- hanyalah waktu istisrar (tersembunyinya hilal) ketika bulatan matahari dan bulan berkumpul pada jam sekian misalnya, dan ketika matahari tenggelam bulan telah berpisah dari matahari dengan jarak sekitar 10 derajat misalnya, atau kurang atau lebih.

Derajat yang dimaksud adalah satu bagian dari 360 bagian dalam falak dan mereka membaginya menjadi 12 bagian yang mereka namai Ad-Dakhil. Setiap gugusan ada 12 derajat. Inilah maksimalnya pengetahuan mereka, yaitu menentukan jarak antara matahari dan bulan pada waktu dan tempat tertentu. Inilah yang mungkin bisa dihitung tepat dengan hisab. Adapun bisa dilihat atau tidaknya hilal, maka ini adalah persoalan inderawi dan alami, bukan perkara yang dihisab dengan matematika.

Dalam hal ini, tidak berlaku satu aturan yang tidak bertambah dan tidak berkurang dalam peniadaan atau penetapannya. Bahkan jika jarak (antara bulan dan matahari) misalnya 20 derajat, maka hilal bisa dilihat selama tidak ada penghalang dan jika hanya satu derajat maka tidak dapat dilihat. Adapun jika sekitar 10 derajat maka akan berbeda tergantung perbedaan sebab-sebab ru’yah sebagai berikut:
– Berbeda karena ketajaman penglihatan.
– Berbeda karena jumlah orang yang mengamati hilal. Jika banyak akan lebih mungkin terlihat oleh sebagian mereka, karena tajamnya penglihatan atau pengalaman salah seorang dari mereka dalam mengfokuskan pandangan ke tempat terbitnya hilal.
– Berbeda karena perbedaan tempat dan ketinggian, antara tempat yang tinggi dan tempat yang rendah, dan ada penghalang atau tidak.
– Berbeda karena perbedaan waktu melihatnya.
– Berbeda karena tingkat kebersihan udara.

Jika ru’yah merupakan sebuah hukum yang terkumpul dari sebab-sebab ini, yang tidak sedikitpun masuk dalam perhitungan ahli hisab, maka bagaimana mungkin seorang ahli hisab memberi kabar dengan kabar yang menyeluruh bahwa hilal tidak mungkin dilihat oleh seorangpun karena dia pandang jaraknya cuma tujuh atau delapan atau sembilan derajat. Atau bagaimana mungkin dia kabarkan dengan berita yang pasti bahwa hilal dilihat jika sembilan derajat atau sepuluh misalnya. (Majmu’ Fatawa, 25/126-189 dengan ringkas)

Beliau (Ibnu Taimiyyah) simpulkan: “Dan orang yang berpijak pada hisab dalam (menentukan) hilal, sebagaimana ia sesat dalam syariat, iapun telah berbuat bid’ah dalam agama, dia telah salah dalam hal akal dan ilmu hisab.” (Majmu’ Fatawa, 25/207)

Inilah penjelasan Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang cukup terang, menjelaskan kepada kita sejauh mana ketepatan dan hukum ilmu hisab atau falak sebagai penentu awal bulan Islam.

Ini pula yang difatwakan oleh panitia tetap untuk pembahasan ilmiah dan fatwa Saudi Arabia (Lajnah Da’imah), ketika sampai kepada mereka sebuah pertanyaan:
Apakah boleh seorang muslim menentukan awal dan akhir puasa dengan hisab ilmu falak atau harus dengan ru’yah hilal?
Jawab:
Allah Ta’ala tidak membebani kita dalam mengetahui awal bulan Qamariyyah dengan sesuatu yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali kelompok yang sedikit dari manusia yaitu ilmu perbintangan atau hisab falak. Dengan ketentuan ini, terdapat nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah untuk menjadikan ru’yah hilal dan menyaksikannya sebagai tanda awal puasanya muslimin di bulan Ramadhan dan berbuka dengan melihat hilal Syawwal. Demikian pula keadaannya dalam menetapkan ‘Iedul Adha dan Arafah. Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمْ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan hendaknya berpuasa.” (Al-Baqarah: 185)

يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal-hilal, katakanlah: ‘Itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji.’” (Al-Baqarah: 189)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

إِذَا رَأَيْمُوْهُ فَصُوْمُوهُ وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ

“Jika kalian melihatnya, maka puasalah kalian, dan jika kalian melihatnya maka berbukalah kalian. Tapi jika kalian tertutupi awan, maka sempurnakanlah menjadi tigapuluh.”(Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar radiyallahu ‘anhuma)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam menjadikan tetapnya puasa dengan melihat hilal bulan Ramadhan dan berbuka dengan melihat hilal Syawwal. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam tidak mengaitkannya itu dengan hisab bintang-bintang dan perjalanannya. Yang demikian diamalkan sejak jaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin, empat imam dan tiga kurun waktu yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam persaksikan keutamaan dan kebaikannya.

Merujuk kepada ilmu bintang dan meninggalkan ru’yah dalam menetapkan bulan-bulan Qamariyyah untuk menentukan awal ibadah, merupakan bid’ah yang tiada kebaikan padanya dan tidak ada landasannya dalam syariat. (Fatawa Ramadhan, 1/61, ditandatangani oleh Asy-Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi, Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Mani’, dan Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayyan)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Adapun hisab, maka tidak boleh beramal dengannya dan berpijak padanya.” (Fatawa Ramadhan, 1/62)

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah ditanya: Sebagian kaum muslimin di sebagian negeri sengaja berpuasa tanpa bersandar pada ru’yah hilal dan merasa cukup dengan kalender. Apa hukumnya?
Jawab: Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam telah memerintahkan kaum muslimin untuk “Berpuasa karena melihat hilal dan berbuka karena melihat hilal, maka jika mereka tertutup oleh awan hendaknya menyempurnakan jumlah menjadi 30.” (Muttafaqun ‘alaihi) dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلا َنَحْسِبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا وَعَقَدَ الإبْهَامَ فِي الثَّالِثَةِ وقال وَالشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا وَأَشَارَ لأَصَابِعِهِ كُلِّهَا

“Kami adalah umat yang ummi tidak menulis dan tidak menghitung bulan itu adalah demikian demikian dan demikian dan beliau menggenggam ibu jarinya pada ketiga kalinya dan mengatakan bulan itu adalah begini, begini dan begini dan mengisyaratkan dengan jari-jarinya seluruhnya.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam maksudkan bahwa bulan itu mungkin 29 hari dan bisa 30 hari, dan terdapat sebuah hadits dalam Shahih Al-Bukhari dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

صُوْمُوا لِرُأْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُأْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَِّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ يَوْمًا

“Puasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya, maka jika kalian tertutupi awan hendaknya menyempurnakan Sya’ban menjadi 30.”

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam juga bersabda:

لاَ تَصُوْمُوا حَتَّى تَرَوا الْهِلاَلَ وَتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوا الْهِلاَلَ وَتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ

“Jangan kalian berpuasa sehingga melihat hilal atau sempurnakan jumlah dan jangan kalian berbuka sehingga melihat hilal atau menyempurnakan jumlah.” (Shahih, HR. Muslim no. 2495)

Dan hadits-hadits tentang ini banyak jumlahnya, yang kesemuanya menunjukkan wajibnya beramal dengan ru’yah atau menyempurnakan jumlah ketika tidak ada ru’yah, sebagaimana juga menunjukkan tidak bolehnya bersandar kepada hisab dalam masalah itu. Ibnu Taimiyyah rahimahullahtelah menyebutkan ijma’ para ulama bahwa dalam menentukan hilal tidak boleh bersandar kepada hisab. Dan itulah yang benar, tiada keraguan padanya. Allahlah yang memberi taufiq. (Fatawa Shiyam, hal. 5-6)

Syubhat
Sebagian orang memahami sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam:

الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرًوْنَ لَيْلَةً لاَ تَصُوْمُوهُ حَتَّى تَرَوْهُ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ إِلاَّ أَنْ يُغَمَّ عَلَيْكُم فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

“Bulan adalah 29 (hari) maka janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka sehingga kalian melihatnya kecuali jika kalian tertutupi awan, maka jika tertutupi awan maka tentukanlah.” (Shahih, HR. Muslim no. 2501)
Mereka mengatakan kalimat ‘tentukanlah’ maksudnya adalah menentukan dengan hisab tempat-tempat bulan.

Pendalilan mereka dengan hadits Ibnu ‘Umar ini sangat rusak karena Ibnu ‘Umar sendiri yang meriwayatkan hadits: “Kita adalah umat yang ummi tidak menulis dan tidak menghitung” (dengan makna seperti yang telah dijelaskan -red). Bagaimana mungkin kemudian hadits beliau dipahami mewajibkan mengamalkan ilmu hisab? (Majmu’ Fatawa, 25/182)
Makna yang benar adalah tentukanlah jumlah bulan maka sempurnakanlah jumlah Sya’ban menjadi 30. (Al-Mishbahul Munir, hal. 492)
Akan lebih jelas lagi dengan riwayat lain yang menjelaskan maksud kata
فَاقْدِرُوا لَهُ
(maka tentukanlah) yang terdapat dalam riwayat Muslim dari ‘Ubaidillah bin ‘Umar dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam dengan lafadz:

فَاقْدِرُوا ثَلاَثِيْنَ

“Maka tentukanlah menjadi 30.”

Dalam riwayat Asy-Syafi’i dari Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari Ibnu ‘Umar dengan lafadz:

فَأَكْمِلُوا الْعِدَِّةَ ثَلاَثِيْنَ

“Sempurnakanlah jumlah menjadi 30.”
Juga dalam riwayat Al-Bukhari dari Al-Qa’nabi dari Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari Ibnu ‘Umar dengan lafadz yang sama. Yang lebih jelas lagi dalam riwayat Al-Bukhari dari Abu Hurairah:

فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ

“Maka sempurnakanlah jumlah Sya’ban menjadi 30.” (lihat Nuzhatun-nadzhar bersama An-Nukat, hal. 100-102. Fathul Bari, 4/121)
Maksud dari kata (maka tentukanlah) begitu gamblang, yaitu menyempurnakan jumlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari sebagaimana penjelasan di atas. Bukan maknanya memperkirakan dengan ilmu hisab atau falak.
Wallahu a’lam.

Footnote :
1. Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Yang dimaksud adalah menghisab bintang-bintang dan perjalanannya….. Bahkan yang nampak dari konteks tersebut menafikan pengaitan hukum dengan ilmu hisab sama sekali. Menjelaskan yang demikian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam jika kalian tertutupi awan sempurnakanlah menjadi 30. Beliau tidak mengatakan bertanyalah kepada ahli-ahli hisab… Seandainya perkara ini dikaitkan dengan ilmu hisab maka akan menyempitkan masalah ini. Karena tidak ada yang mengetahuinya kecuali sedikit.” (Fathul Bari 4/127)

(Dikutip dari tulisan Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc, judul asli Meneropong Ilmu Hisab. Url sumber http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=294)

Categories: Jelajah Hidup | Leave a comment

Franchise Gress 2008

Peluang Usaha

“Dicari 9.999 Calon Pengusaha Fried Chicken & Burger!!”

Keuntungan menjadi Mitra Usaha Salsa Chicken & Burger

GRATIS!!Konsultasi Usaha!

GRATIS!!Training Cerdas Finansial senilai Rp.500.000!

GRATIS!!Training Masak, Manajemen dan Pemasaran untuk Anda dan Karyawan!

GRATIS!!Franchise Royalti Fee!!!

  • Investasi ringan dan cepat kembali modal
  • Bisnis jangka panjang dan jaminan masa depan
  • Berhak menggunakan nama “Salsa Chicken & Burger”
  • 100% Usaha dan keuntungannya menjadi milik anda
  • Bisnis ini mudah & praktis untuk dijalankan
  • Produk trend, harga produk bersaing & resiko minimal
  • Selalu menjaga kualitas & standar rasa
  • Potensi & peluang pasar tidak terbatas
  • Dukungan pembinaan outlet (kami membantu anda memulainya, membimbing, adanya sarana konsultasi & selalu memantau perkembangan omzet usaha anda)
  • Jaminan suplai barang dan bahan baku

Syarat Kemitraan Usaha

  1. Wajib dan komitmen membeli bahan baku
  2. Semangat wirausaha yang tidak mengenal putus asa, serius untuk menjalankannya, kreatif & menyadari bahwa semua bisnis ada resikonya
  3. Berjiwa Entrepreneur dan Keinginan kuat untuk berhasil
  4. Menyiapkan lokasi dan tenaga penjual
  5. Bersedia mengikuti dan menjalakan konsep usaha Salsa Chicken & Burger sesuai standar
  6. Menyediakan dana dalam semua aktivitas usaha

Target Market

* Konsumen kelas menegah biasa dan bawah

* Semua umur

* Lokasi Strategis :

Sekolahan

Kampus

Mini Market

Pasar

Garasi depan Rumah

Perempatan/Pinggiran jalan

Perkantoran

Kantin

Rumah Sakit

Tempat Hiburan

Area Bazar

Tempat rekreasi

PERALATAN & PERLENGKAPAN

  1. 1 (satu) unit COUNTER STASTIS SALSA

Dudukan Lampu 2

Lampu 25 W atau 50 W 2

Kabel 1

Kursi Plastik 2

Lampu Penerang 1

  1. Perlengkapan Promosi

Kaos Salsa 1

Spanduk Salsa 1

Topi Salsa 1

Daftar Harga 1

Stiker 1

III. Perlengkapan Masak

  1. Kompor gas satu tungku 1
  2. Wajan Teflon 1
  3. Jepitan daging 1
  4. Pisau Roti 1
  5. Tempat Bumbu 4
  6. Tempat Sayur (Selada/Timun) 1
  7. Regulator Gas 1
  8. Selang gas 1
  9. Tabung gas (Untuk burger) 1
  10. Cool Box (Daging burger) 1
  11. Peralatan Soft Drink 1
  12. Panci Masak kentang goreng 1
  13. Kompor High Pressure 1
  14. Besi Dudukan Kompor 1
  15. Meja Kerja 1
  16. Tabung Gas isi 12 kg (untuk ayam) 1
  17. Selang Gas 1
  18. Regulator Gas 1
  19. Dandang Penggorengan Ayam 2
  20. Wadah Tempat tiris ayam matang 1
  21. Nampan tempat tiris Ayam Matang 2
  22. Termometer Masak 1
  23. Penjepit Daging ayam 1
  24. Codet 1
  25. Serok ayam matang 1
  26. Toples Jumbo untuk stok tepung 1
  27. Toples kecil untuk limbah tepung 1
  28. Baskom kecil untuk tepung kering 1
  29. Baskom tepung untuk adukan 1
  30. Saringan ayakan tepung 1
  31. Baskom rendaman Bumbu ayam 1
  32. Baskom kecil butter mix 1
  33. Saringan kecil Butter Mix 1
  34. Cool Box (Pendingin penyimpanan) 1
  35. Celemek 1
  36. Kain Lap (Tangan dan peralatan) 2

Nilai Investasi Counter & Perlengkapannya

Salsa Fried Chicken & Burger (+French Fries)

HANYA Rp.15.500.000,-.

DIBUTUHKAN SEGERA CALON ENTREPRENEUR untuk WILAYAH BANDUNG!!

Segera Hub Nugroho : 0815.9893.512 (Master Area Bandung)

Categories: Belajar Bisnis di Internet | 1 Comment

Klik Rupiah, Hanya mengklik Dapat UANG

mENCARI UANG DENGAN PTC, Apa sih PTC itu? Silahkan anda lihat duli Klik dulu disini. Memang bisnis ini recehan, tapi jangan dianggap remeh. Setiap klik anda dibayar 0,01 dollar lalu anda mempunyai 10 orang referal saja, Mari kita hitung: 10 x 0.01 = 0.1, 10 x 0.01 x 10 = 1 Total pendapatan anda perhari = 0.1 + 0.5 = 1.1 Kalo dikali 30 maka hasilnya 33 dolllar, MAU?.

Kalau mau daftar Klik di sini

Categories: Belajar Bisnis di Internet, Cari Uang | Tags: , , , | 1 Comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories: Jelajah Hidup | 1 Comment

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.